PENGANTAR SUTRADARA PENTAS “IBU TANAH” PRODUKSI NARA TEATER TAHUN 2025

PENGANTAR SUTRADARA PENTAS “IBU TANAH” PRODUKSI NARA TEATER TAHUN 2025

Pentas "Ibu Tanah" Nara Teater @Dokumentasi Nara Teater



Karya Pentas “Ibu Tanah” produksi Nara Teater Tahun 2025 dirancang-bangun berdasarkan penelusuran mitologi dan sejarah penguasaan atas tanah. Dalam mitologi Lamaholot, tanah digambarkan sebagai ibu yang melahirkan dan memangku (:memelihara) manusia. Oleh karena itu, dianggap suci, dihormati dan dijaga sebaik-baiknya. 

Pada tanah ada sekian kehidupan yang saling berinteraksi, saling topang membentuk mata rantai kehidupan (ekosistem). Saling menjaga dan merawat. Mensifati tanah sebagai ibu yang senantiasa berbagi (:menghidupi) dengan sabar dan penuh kasih.

Ketika kebudayaan manusia berkembang, lahir feodalisme. Sistem kekuasaan yang betumpuh pada raja/tuan tanah. Penguasaan tanah oleh raja/tuan tanah melahirkan dominasi dan penguasaan sumber daya ekonomi yang timpang. Kolonialisme Eropa yang bekerjasama elit lokal melahirkan sistem buruk dan ekploitatif atas tanah. Ekonomi penjajah mendominasi ekonomi masyarakat lokal.  Mengubah rakyat sebagai pemilik tanah menjadi buruh atau orang upahan atas tanahnya sendiri.

Hampir seabad usia kemerdekaan, pengerukan sumber daya produktif dan kekayaan alam terus terjadi. Sektor vital seperti pertanian, pendidikan, kesehatan tunduk pada permainan pasar. Tanah dikuasai, laut dikafling, tanah dibor atas sekian dalil kesejahteraan. Problem ekologi mengancam kehidupan masyarakat. 

Pada akhirnya kita bertanya: Pembangunan untuk siapa? Pembangunan berlabel premium hanya menguntungkan segelintir elit. 

Retorika politik yang manis ternyata menyembunyikan ketamakan yang mengangkangi Ibu Tanah sendiri. Migrasi anak tanah keluar dari kampung halamannya menjadi buruh kasar, pembantu rumah tangga di tanah orang sedang investor, institusi-institusi besar datang menguasai tanahnya. Rakyat dan umat makin susah punya akses atas tanah sedang para elit dengan segala kekuasaan yang ada padanya terus menambah kekayaan termasuk kepemilikan atas tanah.

Kita hanya memperpanjang sistem buruk warisan kolonial. Distribusi kekayaan tetap saja timpang. Kerjasama elit lokal dengan kepentingan ‘pihak luar’ terus terjadi. Masyarakat terpecah, pro dan kontra, kadang bertikai hanya karena kepentingan pihak luar. Yang kerap memanfaatkan elit setempat dan aparat yang mestinya menjaga dan melindungi masyarakat. Pun agama sebagai kekuatan pembebas dalam sejarah kehadirannya malah berkontribusi menggerus iman masyarakat lokal pada Ibu Tanahnya.

Pada akhirnya kita bertanya: Pembangunan untuk siapa? Kampanye politik, pidato pembangunan, sidang di Lembaga Perwakilan Rakyat, kotbah di mimbar-mimbar keagamaan untuk siapa? Siapa sesungguhnya yang kita wakilkan dan perjuangkan? 
Penjajahan  terus hadir dalam bentuk dan model baru yang mengekploitasi, memecah-belah dan menciptakan budaya konsumtif dan ketergantungan masyarakat terhadapnya.

Pentas “Ibu Tanah” adalah sajian kecil penggalian narasi-narasi minor, sejarah orang-orang kalah serta tokoh-tokoh yang tak terbaca dalam sejarah dominan. Sejarah selalu diproduksi oleh pemenang, oleh kekuasaan yang kadang mencaplok tanah rakyat, menciptakan rasa inferior, menggerus iman dan secara perlahan (sistemik) mengusir mereka dari tanah leluhurnya. 

Pentas “Ibu Tanah” adalah cara kami berbagi kegelisahan. Mengingatkan kita supaya menjaga tanah kita, laut kita, langit kita. Jangan sampai kita terbuai dan tertipu pada segala janji manis kesejahteraan. Ujung-ujungnya hanya meninggalkan luka akibat konflik internal. Dibuat terkotak-kotak, terpecah-belah. Jadi orang upahan, gelandangan atau buronan di Tanah Ibu kita sendiri.

Lewotala, 17 Juni 2025
Silvester Petara Hurit, Sutradara, Pendiri Nara Teater

Komentar